Oleh: Ufqil Mubin
Kasus korupsi yang menimpa salah
satu pejabat negara dari partai penguasa yang saat ini masih diperbincangkan
karena diduga melibatkan anak petinggi negeri seolah mengingatkan kembali
kepada kita terhadap kasus serupa yang pernah mencuat di akhir masa jabatan presiden
sebelumnya.
Di masa kepemimpinan presiden yang
lalu, sebagian pejabat tinggi negara yang berada di lingkaran penguasa berakhir
di jeruji besi. Ketua partainya pun berakhir di terungku karena terbukti
melakukan korupsi. Para menteri juga terbukti terjebak pada tindak pidana
korupsi dalam beragam kasus.
Hal yang sama pula terjadi di
periode kedua presiden saat ini. Kita mungkin belum begitu lupa dengan dua
menteri yang tertangkap KPK karena kasus korupsi. Mereka juga orang-orang
terdekat dalam lingkaran kekuasaan tertinggi negeri ini. Apalagi menteri yang terakhir
ini. Ia seorang petinggi partai yang kini memayungi presiden dalam merebut, menjalankan,
dan mempertahankan kekuasaannya.
Barangkali karena kasus-kasus korupsi
itu pula yang membuat partai penguasa sebelumnya gagal mempertahankan
kekuasaan yang telah dipegangnya selama sepuluh tahun. Atau bisa jadi pula disebabkan
menurunnya performa presiden sehingga gagal mempertahankan pengaruhnya di
hadapan para pemilih yang mengalihkan pilihannya pada partai lain di Pilpres
2014.
Bisa jadi benar kata orang-orang
bahwa korupsi sangat dekat dengan kekuasaan yang dibangun dengan produk pemilu
yang hanya memberikan peluang bagi mereka yang mendapatkan kekuasaan karena
uang. Pada titik ini, para oligarkilah yang sebenarnya berkuasa. Ini bisa
terjadi pada partai yang berlatar belakang nasionalis, religius, ataupun partai
nasionalis-religius.
Ke depan, memang di negara kita
ini perlu ada perubahan besar dalam sistem pemilu. Pesta demokrasi liberal yang
saat ini diterapkan untuk mendapatkan kekuasaan pada akhirnya tidak membawa
kemajuan yang berarti bagi bangsa kita. Setiap pemilu kita justru disibukkan
dengan perpecahan antar-anak bangsa karena saling hujat, saling cemooh, dan perang
opini yang tak berarti apa-apa bagi kemajuan bangsa.
Pemilu mestinya memberikan peluang
bagi mereka yang benar-benar memiliki rekam jejak bersih, mempunyai kemampuan
manajerial, dan kompetensi lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan roda
pemerintahan. Jika hal ini masih gagal kita terapkan pada pemilu berikutnya,
saya meyakini bangsa ini tidak akan pernah mengalami kemajuan apa pun. Barangkali
yang ada justru sebaliknya: kemunduran. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar