Oleh: Ufqil Mubin
Ada dua kelompok di media sosial
yang paling “nyaring” bersuara terhadap perkembangan sosial politik di negeri
ini. Satu kelompok tergolong sebagai para pendukung setia pemerintahan saat
ini. Kelompok kedua terkonfirmasi sebagai “oposisi” yang mengkritik semua hal
yang dilakukan oleh pemerintah.
Saya sering memantau perkembangan
politik negeri ini lewat dua kelompok ini. Walau sebenarnya faksi-faksi di
negara kita tak dapat disimplifikasi dengan dua pembagian kelompok tersebut. Kenyataannya,
ada faksi-faksi lain yang juga tidak terafiliasi dalam dua kutub perbedaan kelompok
politik tersebut. Tapi di lain kesempatan, saya akan mengulasnya. Artikel ini
hanya akan membahas dua kelompok tersebut.
Barangkali sulit bagi saya—atau mungkin
kita—untuk berdiri di tengah-tengah tanpa ikut dalam faksi tertentu.
Setiap orang, saya yakini, tidak akan bisa “netral” dalam menanggapi isu-isu sosial-politik.
Entah karena alasan apa pun. Lazimnya, setiap individu akan bergabung dalam
faksi tertentu sesuai dengan latar belakangnya: paham keagamaan, kesukuan, dan
sosial-politik.
Di awal-awal aktif memantau
perpolitikan nasional, saya tak bisa memungkiri kecenderuan pada salah satu kelompok
dari dua faksi tersebut. Meski dalam beberapa hal saya tak sependapat dengan
kelompok tertentu yang saya yakini memiliki pandangan positif tersebut. Belakangan
ini, dalam sejumlah bagian, perbedaan itu saya nilai menyangkut hal prinsipil.
Karena itu, saat ini, seiring
masifnya informasi yang tersebar di media dan bahan bacaan yang barangkali
semakin bertambah, saya memandang dua kelompok ini justru menjadi “batu
sandungan” bagi kemajuan bangsa ini. Dalam beberapa bagian, mereka manarik kita
pada diskursus yang tak begitu prinsipil bagi masa depan Indonesia. Keduanya
saya sebut sebagai fundamentalis kanan dan fundamentalis kanan progresif—pada kesempatan
lain saya akan menjelaskan dua istilah ini. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar